Sinopsis
Kembang Jepun bercerita tentang sosok Keke asal Minahasa, Sulawesi Utara, yang dijual sejak usia sembilan tahun kepada seorang pemilik rumah geisha di Surabaya. Untuk mengelabui “pasar”, nama Keke kemudian diubah Keiko oleh Yoko yang seorang geisha yang sudah lama menempati Shinju.
Di dalam Shinju Keke mengalami kekerasan baik oleh Kotaro Takamura, yang merupakan pemilik rumah geisha di daerah Shinju di Surabaya. Bukan hanya saja oleh Kotaro, tapi Keke juga mendapat perlakuan kasar oleh Yoko yang mengajarinya seni Geisha. Disini Keke bertemu dengan Tjak Broto, salah seorang pelanggan yang akhirnya menyukai Keke dan menikahinya.
Ketika terjadi peperangan di Surabaya, Keke dibawa lari paksa ke jepang oleh Hiroshi Masakumi salah seorang pelanggan yang menyukai Keke. Disini dia mendapatkan perlakuan tidak sewajarnya oleh Hiroshi sendiri maupun ibunya Hiroshi. Selanjutnya oleh Hiroshi diceritakan kesulitan hidup Keke setelah pulang dari Jepang yang mendapatkan kenyataan suaminya sudah menikah dengan perempuan Sunda. Melihat kenyataan itu Keke memilih kembali ke Minahasa. Namun, di tanah kelahirannya pula Keke harus mendapatkan perlakuan kasar, lantaran disana juga tengah terjadi pemberontakan Permesta, Keke kembali menjadi bulan-bulanan seks, Cuma kali ini dari laki-laki bangsa sendiri, tentara Permesta yang merupakan masyarakat yang berasal dari satu suku, satu kebiasaan, dan satu budaya tapi keke berhasil melarikan diri hidup mengasingkan diri di hutan selama 25 tahun. Cerita berakhir ketika pada usia 62 tahun Keke kembali ke dalam pelukan suaminya yang sama-sama sudah berumur.
Latar Belakang
Novel karya Remy Sylado ini berlatar perjuangan bangsa Indonesia dari masa penjajahan Belanda, Jepang dan bahkan paska proklamasi kemerdekaan. Meskipun tema utamanya tentang cinta, namun juga didukung dengan data-data faktual, data-data sejarah. Tak hanya data tentang budaya Jepang, termasuk nyanyian syair pendeta shinto pun ada di novel ini.
Kembang Jepun adalah karya novel yang bercerita tentang geisha. Kehidupan geisha pada novel tersebut bukan berlatar Jepang, melainkan Surabaya, tepatnya pada kawasan yang pada zaman penjajahan disebut Kembang Jepun, kawasan ini benar pernah ada. Berbicara mengenai geisha di Indonesia adalah hal yang cukup sulit dilakukan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, geisha tidak berterima bagi pandangan bangsa Indonesia. Akan tetapi, hal tersebut justru mengisyaratkan terdapat efek-efek tertentu yang ingin disampaikan dari novel ini kepada pembaca Indonesia dalam kaitannya dengan perbedaan pandangan mengenai geisha oleh bangsa Jepang dan Indonesia.
Salah satu bentuk kebudayaan asing yang tidak cocok dengan cara pandang bangsa Indonesia adalah geisha. Geisha adalah salah satu kebudayaan khas Jepang. Kekhasan Geisha sebagai produk budaya yang hanya dimiliki Jepang dapat diungkapkan sebagai berikut. Geisha seolah-olah menjadi “sesuatu” yang benar-benar Jepang karena hanya dengan melihat gambar seorang geisha akan mengatahui bahwa maksud dari gambar itu adalah menceritakan mengenai suatu hal yang ada hubungannya dengan Jepang[1].
Geisha, oleh sebagian orang yang tidak paham, sering disamakan dengan pelacur. Namun, dalam perspektif Jepang tidak demikian. Setiap tindakan yang dilakukan geisha, mewujudkan kebudayaan Jepang[2]. Walaupun sudah dengan penjelasan yang cukup panjang, bagi orang Indonesia, geisha tak ubahnya pelacur karena pandangan bangsa Indonesia tidak membenarkan perilaku seks di luar nikah. Tetapi saya sendiri berpendapat bahwa geisha itu berbeda dengan pelacur karena Geisha merupakan pribadi seni, geisha merupakan sebuah produk kebudayaan dari Jepang, hanya saja bersifat kontroversial. Analisis Geisha terhadap pribadi seni akan dijelaskan pada bagian Analisa.
Analisa
- Novel Kembang Jepun merupakan pelengkap pengetahuan tentang Geisha
Prostitusi adalah hal yang seringkali dikaitkan dengan kehidupan geisha. Hal ini juga yang sering dilakukan oleh selain masyarakat Jepang. Geisha harus dipahami secara lengkap agar hal-hal lain yang esensial dari sosok geisha tidak hilang atau tertutupi oleh efek negatif dari anggapan demikian. Esensi inilah yang, salah satunya, terungkap dalam novel ini. Perhatikan kutipan dari novel tersebut.
“Memegang alat ini memerlukan kelembutan tersendiri, tidak seperti memegang gitar. Jempol tangan kiri saya tidak langsung kulitnya mengenai leher shamisen, […]. Jari jempol menjepit, lantas jari telunjuk bergerak-gerak di atas dawai dengan dorongan perasaan yang mengatur melalui keluluhan sukma”[3]
Geisha merupakan profesi bagi pecinta kebudayaan jepang. Seorang geisha tidak hanya bermodalkan tubuhnya saja untuk dinikmati, tetapi juga harus mampu menguasai seni dan kebudayaan jepang lainnya, seperti bermain musik, menyanyi, melantunkan lagu pendeta shinto, menyajikan teh, maupun adat istiadat jepang. Karena Geisha sendiri berasal dari kata “Gei” dan “sha” yang berarti seni dan pribadi. Maka pengertian sebenarnya geisha ialah seseorang yang memiliki pribadi seni, negara Jepang tentunya.[4]
- Perjuangan terhadap penjajahan dapat melalui tulisan dan kesenian
Perjuangan melawan penjajah tidak diharuskan dengan mengangkat senjata. Ini dilakukan oleh tokoh Tjak Broto dalam novel ketika zaman Jepang. Tjak Broto berjuang dengan cara ikut rombongan ludruk. Ia menyadari bahwa ini adalah perjuangan bangsa buka perorangan. Dalam cerita, sejak zaman penjajahan Jepang sampai kemudian Indonesia merdeka, dan memasuki orde baru, Tjak broto dan istrinya Keke terpisah. Keke diangkut ke jepang oleh Hiroshi dan Tjak Broto ke Bandung dan memulai hidup baru lagi. Pada suatu waktu, Tjak Broto dikurung di penjara selama 5 tahun Kalisosok karena tulisannya dianggap menghasut barulah sadar Keke betapa ia merindukan Tjak Broto, betapa itu adalah Cinta. Lalu ia bertekad menemuinya di penjara setelah 5 tahun tidak bertemu.
- Geisha adalah Profesi Penuh Pengabdian
Dalam cerita, Keke sejak umur 9 tahun dilatih untuk menjadi seorang geisha. Bagaimana bisa bahwa geisha dianggap sebagai pelacur oleh sebagian besar orang. Padahal untuk menjadi seorang geisha saja perlu di didik sejak kecil. Geisha merupakan profesi dimana seorang wanita mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjadi penghibur. Penghibur yang memberikan segala-galanya–yang juga didasari kodrat bahwa wanita memang lebih prigel(pantas) dibanding laki-laki bila menghibur—untuk menyenangkan laki-laki. Jelas sekali berbeda dengan pelacur, pelacur berlandaskan pada nafsu, sedangkan geisha seks merupakan hal yang harus dijalani dengan penghayatan dan ketulusan yang mendalam. Itu adalah wujud geisha sebagai pengabdian dalam pekerjaannya sebagai geisha. Dalam pribadi geisha benar-benar dididik bahwa hidupnya adalah untuk menjadi seorang penghibur. Mereka diajarkan bagaimana memainkan musik, bernyanyi, menuangkan sake, hingga persetubuhan adalah untuk pengabdian mereka terhadap pekerjaannya sebagai penghibur. Pengabdian mereka, yang identik dengan pesta, kemesuman dan hura-hura, kemudian diartikan lain oleh masyarakat, termasuk ibu Tjak Broto.[5]
Bentuk pengabdian ini selalu di artikan buruk oleh masyarakat nonberkebudayaan jepang. Jelas teungkap dalam kutipan di atas bahwa Kembang Jepun sedikit banyak telah mampu menggeser anggapan buruk mengenai geisha ke arah positif. Dengan mengatakan “geisha” diartikan lain kemudian. Berikut beberapa kutipan dalam novel yang mendukung anggapan bahwa geisha lebih dari sekedar pelacur.
“bersetubuh bagi seorang geisha adalah gabungan antara pekerjaan, pelayanan, dan keindahan. Ini yang saya kira, tidak dimiliki oleh bangsa berbudaya manapun di dunia.”[6]
“Melepaskan kimono seperti juga mengenakannya, sama-sama memiliki keindahan yang merangsang. Dalam menjalankan tugas sebagai geisha, mengenakan dan melepaskan kimono termasuk yang paling rumit diajarkan. Kesan indah yang ditampilkan dalamnya diserasikan dengan sifat alami gerak-gerik tari.”[7]
Kutipan di atas hanya sebagian kecil dari pelajaran yang harus dipahami oleh seorang calon geisha. Seni harus terus melekat pada setiap gerak-gerik geisha. Semuanya harus mengesankan keindahan dan kelembutan. Hal demikian baru akan dicapai setelah melalui proses belajar yang panjang. Seseorang tidak serta merta dapat menjadi geisha. Banyak keahlian yang harus dikuasai geisha. Bukan hanya sekadar membangkitkan birahi laki-laki, seorang geisha harus mampu menguasai berbagai kesenian tradisional Jepang. Di Jepang, mampu menguasai satu kesenian tradisional saja, sudah dianggap hebat. Pencapaian yang harus dimiliki geisha tentu sulit terealisasi tanpa disertai pengabdian dalam menjalani prosesnya.
- Geisha adalah Kebudayaan Jepang bukan Dunia.
Ada yang tersurat dalam novel Kembang Jepun, yaitu bahwa geisha ini adalah mutlak kebudayaan jepang sebagai produk kebudayaan. Geisha dapat diakui sebagai profesi terhormat apabila meletakkan sudut pandang sebagai orang jepang yang berkebudayaan jepang seutuhnya. Berikut kutipan novel yang mendukung argumentasi tersebut.
“Maksud saya, dalam tradisi budaya Jepang, kedudukan saya sebagai geisha, terhormat”[8]
Dalam novel ini juga tersirat bahwa kebudayaan tertentu misalnya geisha, belum tentu dapat diterima baik oleh seluruh masyarakat karena perbedaan adat istiadat.
“Tapi istiadat selalu meminta orang berpihak padanya, dan siapa yang berpihak pada istiadatnya, selalu akan mencurigai istiadat orang lain”[9]
Ketika seseorang telah menancapkan dirinya pada pandangan khas suatu bangsa, akan sulit menerima berbagai hal baru yang datangnya dari luar. Bukan tidak mungkin memang, tetapi sulit dan harus secara bertahap. Seperti novel ini yang sedikit demi sedikit mampu membawa pembacanya pada suatu pemahaman yang tersirat: memahami geisha perlu disertai dengan menempatkan diri pada pandangan bangsa Jepang.
Kesimpulan
Geisha adalah produk kebudayaan Jepang yang kontroversial. Penerimaannya hanya sebatas pada masyarakat yang memiliki jiwa Jepang seutuhnya. Remy Sylado mengangkat persoalan geisha ke dalam novelnya yang berjudul Kembang Jepun. Oleh karena geisha dekat dengan masalah seks yang tabu bagi masyarakat Indonesia, Novel Kembang Jepun pastilah memiliki pemahaman-pemahaman yang ingin disampaikan kepada pembaca Indonesia mengenai geisha.
Pembaca-pembaca Kembang Jepun telah mendapatkan pemahaman yang seragam sebagai hasil pembacaannya terhadap novel ini. Kembang Jepun mampu memberikan sebuah sudut pandang dalam melihat geisha, yaitu sebagai bentuk kebudayaan khas Jepang. Geisha tidak dapat dipandang dalam lingkup prostitusi hanya karena tugasnya sedikit sama. Geisha adalah pribadi seni. Berbagai kesenian Jepang harus dimiliki seorang perempuan yang ingin menjadi geisha. Dari Kembang Jepun, juga dapat dipahami bahwa untuk mengerti dan menerima kebudayaan, dalam hal ini geisha, perlu menjadi seseorang yang berjiwa Jepang sejati, sebagaimana Keke yang menjadi Keiko.
Saran dan Pujian terhadap novel Kembang Jepun
Novel ini memberikan pengetahuan baru mengenai sebuah kebudayaan unik di jepang. Mengapa dikatakan unik, karena umumnya kebudayaan geisha adalah bersifat tabu bagi masyarakat wanita khususnya. Karena banyak saat-saat ini khususnya wanita tidak mau hanya dianggap sebagai penghibur laki-laki. Dengan adanya hak sebagai manusia, kini para wanita ingin diakui sebagai manusia dan sejajar dengan kaum laki-laki. Novel ini juga mengajarkan bahwa keteguhan dan kesabaran hati akan membawakan kebahagiaan sejati. Keke sebagai tokoh utama yang hampir seumur hidupnya mengalami kekerasan, namun ia bertahan sampai pada akhirnya ia dipertemukan kembali oleh orang yang paling ia cintai yaitu Tjak Broto. Novel ini juga mengajarkan bahwa perlawanan terhadap penjajah yang selama ini kita anggap dengan baku tembak dan perang ternyata salah. Banyak sastrawan dan seniman melawan penjajah dengan hasil-hasil karyanya.
Kritik terhadap novel Kembang Jepun
Satu-satunya kritik menurut saya adalah kekerasan. Novel ini mengandung banyak sekali unsur kekerasan. Membuat pembaca trauma apabila membayangkan jika pembaca yang mengalami kejadian tersebut. Dalam hal ini pembaca wanita khususnya. Dan terdapat pula unsur seksualitas. Saran saya pembaca novel ini haruslah mereka yang sudah berumur dewasa dan mengerti hal-hal yang tabu dalam masyarakat seperti seks.
[1] Nugroho, Sidik. 2009. “Wartawan dan Geisha Tertawan Cinta”.
[2] Ibid
[3] Sylado, Remy, 2003. Kembang Jepun hlm 32-33
[4] Ibid, hlm 5
[5] Nugroho, Sidik. 2009. “Wartawan dan Geisha Tertawan Cinta”.
[6] Sylado, Remy, 2003. Kembang Jepun hlm 36
[7] Ibid, hlm 18.
[8] Sylado, Remy, 2003. Kembang Jepun hlm 6
[9] Ibid, hlm 11
EmoticonEmoticon