Sunday, 15 February 2015

Walisongo

 

clip_image001

Berdasarkan cerita tradisional dan babad-babad jawa, tokoh yang mendapat gelar wali dianggap sebagai pembawa dan penyebar islam di daerah-daerah pesisir. Namun tidak semua yang tergolong Wali Sanga atau Wali Sembilan berasal dari negeri luar. Bahkan sebagian besar wali sanga, menurut cerita dalam babad tanah jawi berasal dari jawa sendiri. Sunan Bonang, Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel yang sebelumnya telah bertempat tinggal di kampung Ampel Denta (Surabaya), Sunan Kalijaga yang disebut Jaka Sayid adalah putra seorang tumenggung Majapahit, Sunan Giri adalah putra seorang putri Balambangan dengan seorang muslim, dan ia adalah anak angkat nyai panatih, Sunan Gunung Jati adalah putra Rara Santang atau Syarifah Moda’im, Putri Prabu Siliwangi.

Sunan Rahmat sendiri yang disebut dalam babad datang dari Campa, adalah sepupu permaisuri Brawijaya. Kalau cerita dalam babad-babad itu benar, para wali itu semuala merupakan penerima ajaran islam, tetapi kemudian juga menjadi penyebar nya terutama di kalangan masyarakat di daerah pesisir utara jawa. Dalam penyebarannya mereka bukan hanya melakukan dakwah islamiah, tetapi juga sebagai dewan penasihat, dan pendukung para raja yang memerintah. Bahkan diantara Wali itu ada yang berprofesi sebagai raja yaitu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Beliau juga seorang pelopor dan penyebar islam sehingga mendapat julukan Pandita-Ratu.

Kecuali nama-nama diatas juga disebutkan dalam babad-babad yang disebut wali. Misalnya maulana maghribi, Syeikh Bentong, Syeikh Majagung. Beberapa nama seperti Sunan Bayat (Klaten), Maulana Malik Ibrahim, Sunan Sendang di desa Sendangduwur sering kali oleh masyarakat setempat disebut pula wali. Oleh karena itu, julukan wali sanga mungkin merupakan julukan yang mengandung perlambangan suatu dewan atau wali-wali, dengan mengambil angka sembilan yang sebelum pengaruh islam sudah dipandang angka keramat.[i]


[i] Nugroho Notosusanto, SNI Jilid 3


EmoticonEmoticon