Taiyou no Uta_bab 4 bagian 2
taiyou no uta bab 4 bag 2by Evan Ferdiansyah on Saturday, May 8, 2010 at 9:38pm
Taiyou no Uta~Sebuah Lagu untuk Matahari: Bab 4 (Bag 2)
Melihat banyak orang yang sangat antusias dengan street performance-ku, aku lantas memutuskan untuk memberikan tambahan satu lagu ekstra. Toh tidak tiap hari aku ke sini, jadi tak ada salahnya, kan? Aku duduk di lantai plaza tersebut dan menyalakan sebatang lilin yang kubawa dari rumah—kebiasaanku sebelum mulai bermain—kemudian mengangkat mukaku. Dengan sedikit ekspresi keraguan, aku lantas menoleh ke arah samping, ke sosok Kouji yang kini tengah terduduk bersama beberapa penonoton lain. Kouji langsung membalas dengan anggukan yang menghangatkan hatiku. Anggukan itu seakan-akan juga sekaligus memintaku untuk tidak ragu-ragu lagi dan mulai bermain. Kuulaskan seberkas senyum di wajahku, setelah itu, aku mulai memetik gitarku.
♪Dakara ima ai ni yuku sou kimetanda
Pocket no kono kyoku wo kimi ni kikasetai
Sotto volume wo agete tashikamete mita yo
Oh Good-bye days, ima
kawaru ki ga suru kinou made ni so long
Kakkoyokunai yasashi sa ga soba ni aru kara
La la la la la with you
Katahou no earphone wo kimi ni watasu
Yukkuri to nagarekomu kono shunkan
Umaku aisete imasu ka?
Tama ni mayou kedo
Oh Good-bye days, ima
kawari hajimeta mune no oku alright....
(Karena itu, aku akan menemuimu sekarang. Itulah yang kuputuskan.
Aku ingin kamu mendengarkan nada yang kubawa dalam kantungku ini
Perlahan, aku menaikkan volume, memastikan bahwa nada itu kubawa
Oh, Selamat tinggal hari-hari,
Sekarang, aku merasakan berbagai hal mulai berubah, aku mengucapkan sampai jumpa hingga kemarin
Karena sebuah kebaikan yang tidak keren sudah berada di sisku
La la la la la denganmu
Aku memberikan satu sisi earphone-ku kepadamu
Perlahan, momen ini mengalir melewatimu.
Dapatkah kamu benar-benar mencintaiku?
Meskipun terkadang aku tersesat.
Oh, Selamat tinggal hari-hari,
Sekarang berbagai dalam hatiku mulai berubah. Baiklah...) ♪
Setelah aku selesai dengan laguku yang kedua, Kouji lalu mengajakku untuk pulang ke Kamakura. Katanya, ia ingin menunjukkan sesuatu kepadaku. Aku setuju, dan kami lantas kembali mengendarai skuter Kouji pulang ke Kamakura. Malam ini...malam ini betul-betul membahagiakan! Kalau aku dulu pernah bilang malam yang paling membuatku bahagia adalah ketika aku bercakap-cakap dengan Kouji tempo hari, maka kurasa aku salah; malam yang inilah yang paling membuat hatiku bahagia. Aku tidak hanya bermain gitar di tempat baru yang Kouji tunjukkan kepadaku, tapi aku juga memperoleh banyak pengalaman baru, dan—ini yang lebih penting—aku melakukan semua ini bersama Kouji! Dengan perlahan, aku mengulurkan tanganku untuk melingkarkannya di pinggang Kouji, kemudian dengan perlahan pula, aku menyandarkan kepalaku di punggung cowok itu. Mataku terpejam dan bibirku tersenyum, pertanda aku sangat menikmati street performance-ku kali ini. Street performance yang bukan hanya penampilan biasa di depan stasiun dengan hanya ditemani sebatang lilin, melainkan sebuah street performance spesial bersama Kouji yang tidak akan kulupakan, dan mungkin tidak akan bisa kuulangi untuk kedua kalinya. Fujishiro Kuoji. Cowok yang selama ini hanya bisa kupandangi dari jendela lantai dua kamarku kini berada tepat di depanku, dan aku kini tengah memeluknya!
***
Ketika kami tiba di Kamakura, Kouji tidak langsung mengantarkanku kembali ke rumah, tetapi ia menghentikan skuternya di tempat parkir pinggir pantai. Oh, ya, betul juga. Dia bilang dia akan menunjukkan sesuatu padaku. Kami kemudian duduk berdua di tangga yang mengarah pantai sembari menikmati suara deburan ombak dan angin pantai malam hari yang sejuk.
“Hei, di masa depan,” ujar Kouji kepadaku, “apa kamu mau merilis CD debutmu?”
Aku berpikir sejenak mendengar pertanyaan Kouji barusan. Itu adalah keinginanku sejak dulu, tapi karena penyakitku ini, mana mungkin aku melakukannya? “Masa depan, ya,” ujarku lirih, “aku ingin mencobanya...”
“Wah, hebat, ya!” balas Kouji. Ia membetulkan posisi kakinya sejenak, kemudian melanjutkan, “Tidak seperti aku yang tak bisa apa-apa.”
“Hm?”
“Hidupku akan terus begini, biasa-biasa saja,” Kouji menjawab, “dan akhirnya aku akan mati dengan biasa-biasa saja juga.”
Aku terdiam setelah Kouji berkata seperti itu. Bagiku, dapat hidup saja merupakan sebuah anugerah, tapi Kouji sepertinya memandangnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Ah, tentu saja. Dia tidak menderita penyakit yang membuatnya dapat meninggal jika terkena sinar matahari. “Bukan seperti itu,” aku menyela, tegas.
“Heh?”
“Mulai sekarang, lakukanlah sesuatu. Kamu bisa melakukan apa pun!”
“Benarkah?” tanya Kouji.
“Itu betul. Kamu pasti akan menemukan sesuatu yang benar-benar ingin kaulakukan,” jawabku, “ini baru awalnya saja.” Oh, betapa aku ingin mengatakan itu kepada diriku sendiri....
Mendengarku berbicara seperti itu, Kouji lantas termenung. “Hm... betul juga,” ujarnya, “ternyata, pola pikirku sederhana sekali, ya,” ia menambahkan. Sepertinya, kata-kataku barusan telah memberikan semacam inspirasi bagi Kouji. Baguslah kalau begitu. Kami lantas terdiam selama beberapa saat, tapi tiba-tiba saja Kouji bangkit dan dengan lantang berseru ke arah laut, “Namaku Fujishiro Kouji,” serunya, “aku tidak mempunyai pacar, dan hobiku adalah berselancar.” Setelah itu, ia tidak mengatakan apa pun lagi dan lalu beralih ke aku. Ia menatap mataku dalam-dalam sebelum akhirnya bertanya dengan wajah bersemu kemerahan, “Maukah kamu berkencan denganku?”
Ini... ini... adalah sebuah pernyataan suka! Dadaku berdebar dua kali lebih cepat setelah Kouji menyelesaikan kalimatnya. Pipiku rasanya langsung menjadi panas. Apakah ini mimpi? Kouji, cowok yang kusukai, akhirnya menembakku! Kalau ini mimpi, aku tidak ingin terbangun, tapi untunglah ini bukan mimpi; ini kenyataan! Dan kenyataannya sekarang adalah Kouji baru saja mengajakku untuk pergi berkencan dengannya! “Ya,” ujarku mengangguk mantap. Aku tersenyum setelah itu. Dia juga. Di saat aku melihatnya tersenyum itulah aku tahu kalau perasaan kami berdua sudah saling tertaut, dan aku juga tahu kalau aku telah menemukan sebuah alasan lain untuk hidup selain untuk menciptakan lagu dan memainkannya di depan stasiun setiap malam.
“Seharusnya sekarang sudah waktunya,” kata Kouji setelah ia mengatakan kalimat yang membuatku serasa meninggalkan bumi saking senangnya. Sudah waktunya? Apa yang dia maksud dengan itu? “Pemandangan di sini sangat indah waktu matahari terbit.”
“Hah!” aku berseru terkaget. Matahari terbit? Rasanya aku baru pergi bersama Kouji selama beberapa jam saja, jadi mana mungkin matahari akan segera terbit!
“Kita bisa melihatnya dari sini, hm, sekitar sepuluh menit lagi,” balas Kouji.
“Bohong,” ujarku. Aku kembali terpana untuk kedua kalinya. Sepuluh menit lagi? Bagaimana mungkin waktu sudah berlalu secepat itu? Dengan sedikit bergetar, aku mengangkat pergelangan tanganku untuk melihat jam tangan sambil berharap kalau perkataan Kouji tidaklah benar. Namun, ternyata dia betul. Jam tanganku menunjukkan waktu setengah enam; hanya beberapa menit sebelum matahari terbit. Tiba-tiba saja badanku terasa bergetar. Bagaimana mungkin? Seharusnya, jam itu sudah berbunyi jauh sebelum matahari terbit, tapi kenapa kali ini.... Dengan perasaan waswas, aku kemudian bangkit dan mengarahkan pandannganku ke langit timur.
“Mungkin kapan-kapan kamu bisa melihatku seluncur di atas ombak....”
“Aku harus pulang,” sergahku. Matahari akan terbit dalam beberapa menit, dan aku tidak punya waktu lagi! “Kalau aku tidak pulang sekarang...,” kata-kataku terhenti. Tenggrokanku tercekat. Tidak, aku tidak ingin membayangkan hal itu!
“Kenapa? Kamu masih punya waktu luang, kan?” balas Kouji
Aku memang tidak memiliki apa pun untuk kulakukan di rumah setelah matahari terbit, tapi aku harus berada di rumah ketika itu. “Tolonglah, aku ingin pulang...”
“Sebentar lagi saja, kok.”
Deg! Jantungku serasa terhenti mendengar Kouji berkata seperti itu. Sudah jelas, ia ingin agar aku dapat tinggal dan melihat matahari terbit besama dengannya. Seandaninya saja aku bisa, aku pasti dengan senang hati akan melakukannya. Perlahan, aku melangkah menjauhi Kouji dan mulai berjalan meninggalkannya. Aku harus berada di rumah sebelum matahari itu terbit, dengan atau tanpa Kouji!
Begitu sadar aku tengah meninggalkannya, Kouji berseru memanggilku. “Kenapa?” tanyanya. Alih-alih menjawab, aku justru berlari. Aku tidak memiliki waktu lagi, bahkan hanya untuk sekadar menjawab pertanyaan Kouji. Cowok itu pun dengan segera juga berlari untuk mengejarku. “Tunggu!” ia berteriak. Diraihnya lenganku ketika ia berhasil menjajariku, kemudian dengan sedikit panik, ia lantas melanjutkan, “Aku mengerti, aku akan mengantarmu pulang!”
“Maaf, ya,” balasku. Aku tidak mau menunggu sampai Kouji mengantarku pulang. Yang ada di pikiranku sekarang adalah mencapai rumah sebelum terbit matahari, itu saja! Karena itulah aku kemudian menampikkan lengannya dan melanjutkan berlari. Kubawa kakiku menderapi jalan pinggir pantai Kamakura. Nafasku terengah-engah, dan tungkaiku bergetar. Aku ingin berhenti saking lelahnya, tapi aku tidak bisa. Kalau berhenti, maka matahari akan berhasil menyusulku! Namun, aku tidak kuat lagi. Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti sejenak supaya dapat mengambil nafas. Bagaimana ini? Langit sudah mulai menerang, sementara aku masih berada di luar. Aku bingung. Lebih dari itu, aku panik. Dalam keadaan kalut seperti itu, tiba-tiba aku mendengar suara motor mendekatiku.
Itu...Kouji!
“Ayo,” serunya kepadaku dari atas skuternya. Aku segera naik ke boncengan motor Kouji tanpa membuang waktu lagi, dan ia pun dengan segera mengegas skuternya ke arah rumahku. Hatiku semakin diliputi perasaan tidak nyaman saat matahari sedikit demi sedikit mulai tampak. Ayo, cepatlah, batinku dalam hati. Aku harus tiba di rumah lebih dulu sebelum matahari berada di langit.
Ketika skuter Kouji tiba di depan rumahku, aku langsung turun dan lalu berlari menaiki tangga. Tak kupedulikan seruan Kouji yang mengingatkan kalau gitarku masih ia bawa. Aku tidak peduli; nyawaku jauh lebih penting daripada gitar itu. Perlahan-lahan, aku melihat hari sudah semakin terang, dan aku tahu kalau waktuku sudah habis. Tolonglah, aku memohon dalam hati, hanya tinggal sedikit lagi. Aku tinggal beberapa langkah saja dari pintu rumahku, jadi biarkan aku masuk melewati pintu itu! Kulihat matahari dengan sinar kemerahannya sudah mulai nampak, yang berarti sedikit atau banyak aku pasti akan terkena sinarnya. Sedikit lagi. Kupercepat langkahku, dan ketika aku berhasil tiba di depan pintu, cepat-cepat kumasuki pintu itu.
Aku selamat.
Kouji datang dengan tergopoh-gopoh sambil menenteng kotak gitarku beberapa saat kemudian, tapi terlambat. Aku sudah terlanjur menutup pintu—aku membanting pintu tepat di depan mukanya! Setelah itu sunyi. Tak kudengar ia memanggilku lagi atau sekadar mengetuk pintu. Alih-alih begitu, yang kudengar justru langkah kakinya yang semakin menjauh. Inikah akhirnya? Apakah Takdir memang tidak memperkenankanku menyukai Kouji? Menyadari hal itu, lututku jadi terasa lemas. Ditambah dengan perasaan lega, takut, dan khawatir yang bercampur jadi satu karena aku berhasil menghindari sinar matahari, perlahan-lahan air mataku mulai meleleh. Aku menangis. Terduduk. Sendirian.
bersambung ke bab 5
EmoticonEmoticon